Kamis, 14 Oktober 2010

Mengkaji Ilmu, Ciri Khas Ahlus Sunnah

Oleh : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewwed

Kita diciptakan Allah di dunia ini adalah untuk beribadah, untuk menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menjauhi laranganNya. Oleh karena itu, mau tidak mau orang yang telah beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala harus mengerti apa yang diperintahkan dan apa yang dilarangNya. Bagaimana kita akan mentaatinya kalau tidak mengerti apa yang diperintahkanNya? Dengan kata lain wajib bagi seorang muslim mempelajari agamanya. Sebagaimana dikatakan dalam riwayat yang shahih dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam :

"Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim"

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ruang lingkup ibadah ada lima belas perkara. Yang demikian karena ibadah terdiri dari tiga macam, yaitu amalan lisan, amalan hati, dan amalan dengan anggota badan. Sedangkan masing-masing dari amalan tersebut terkait dengan lima hukum : wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah. Kemudian Ibnul Qayyim berkata :

“Barangsiapa yang melengkapi lima belas perkara tersebut berarti dia telah menyempurnakan ibadah.”

Maka bagi seorang Muslim harus mengetahui lima belas hukum amalan tersebut, apa yang diharamkan dari ucapan, mana yang diwajibkan, dimakruhkan, dan seterusnya. Demikian pula terhadap keyakinan dan perbuatan, mana yang diwajibkan, diharamkan, dianjurkan, dimakruhkan , dan mana yang dimubahkan saja.

Hal ini tidak bisa dipelajari dalam hitungan jam, bulan atau tahun, apalagi mengandalkan beberapa jam pelajaran dalam satu minggu di sekolah. Ilmu ini membutuhkan waktu terus-menerus sejak kita di pangkuan ibunda sampai memasuki liang kubur. Kita harus memperbaiki keyakinan dan membersihkannya dari bid’ah, khurafat, dan takhayul. Kita harus memperbaiki ucapan-ucapan dan dicocokkan dengan apa yang diajarkan agama ini. Dibersihkan dari segala ucapan kotor, syirik, dusta, caci maki, dan seterusnya.

Demikian pula anggota badan kita harus dibersihkan dari berbagai macam amalan syirik, bid’ah, dosa, dan maksiat. Ini semua butuh butuh ilmu. Ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar seperti apa yang dipahami oleh generasi terbaik, yaitu generasi para sahabat Radhiallahu Anhum.

Permasalahan apapun yang dihadapi, kita butuh keterangan dan bimbingan dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam perang sekalipun kita tidak bisa lepas dari ilmu syariat sehingga kita berpegang sesuai dengan aturan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan contoh teladan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Demikian pula problem politik, sosial, dan ekonomi tidak lepas dari ilmu ini. Yang menunjukkan bahwa kita harus mencari ilmu, mengkajinya terus-menerus sampai menghadapi kematian.

Dari sinilah kita mengetahui mengapa ciri khas Ahlus Sunnah adalah mencari ilmu. Mereka adalah pencari ilmu, peneliti hadits, penggali manuskrip-manuskrip dari peninggalan para ulama terdahulu, meneliti tafsir ayat Al Qur’an dengan riwayat-riwayat dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabat Radhiallahu Anhum dan seterusnya. Hidup mereka adalah mencari ilmu, mengamalkan, dan menyanpaikannya. Sehingga amalan mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan pribadi, kepentingan politik, ataupun kepentingan dunia. Amalan mereka murni berdasarkan ilmu yang mereka pelajari dan dipersembahkan hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Mereka beramal berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, serta dengan pemahaman generasi terbaik yang mereka pelajari dan mereka gali setiap hari. Mereka bukan politikus walaupun mereka tetap menasihati para penguasa. Mereka bukan muqallid (pembebek) walaupun mereka tetap mengikuti nasihat para ulama. Karena pada dasarnya mereka mengikuti ilmu yang mereka dapatkan melalui para ulama tersebut.

Dengan demikian jalan mereka jelas, langkah mereka mantap, tidak mudah ditipu atau dibelokkan. Kalaupun ada perselisihan diantara mereka, mereka mudah kembali karena mereka punya rujukan yang disepakati yaitu ucapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan ucapan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

“Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa : 59)

Kalau mereka berselisih tentang keshahihan riwayat hadits, mereka punya rujukan ulama pakar peneliti hadits yang disepakati keilmuannya dalam bidang tersebut. Seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafi’i dan lain-lain. Kalaupun mereka berbeda memahami ucapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan RasulNya, mereka mudah untuk bersatu karena mereka punya rujukan pemahaman yang disepakati yaitu pemahaman generasi terpuji, generasi para sahabat Radhiallahu Anhum.

“Generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai … .” (QS. At Taubah : 100)

Selebihnya mereka adalah kaum yang menghormati ijtihad orang-orang yang telah berusaha melalui jalur-jalur ilmu tersebut.

Inilah yang membedakan mereka dari ahlul bid’ah yang berjalan berdasarkan hawa nafsu dan selera pribadi. Bayangkan jika setiap orang menyimpulkan suatu hukum tidak berdasarkan ilmu agama, melainkan hasil pikirannya sendiri. Sepuluh kepala, sepuluh pemikiran. Seratus kepala, seratus ide. Seribu kepala, seribu pendapat. Apa yang akan terjadi? Sebagian mereka berjalan mengikuti perasaan mereka, sebagian yang lain mengikuti pikirannya, sebagian yang lain mengikuti adat dan kebiasaan kaumnya. Lantas pikiran siapa yang menjadi standar? Perasaan siapa yang menjadi rujukan? Adat bangsa mana yang menjadi pegangan di kala terjadi perselisihan? Inilah sumber perpecahan dan sumber kehancuran.

Oleh karena itu, di kala masing-masing bangsa ingin membumikan Islam, menyeret dalil-dalil untuk dicocokkan dengan dengan adat dan budaya bangsanya, saat para pemikir liberalis ingin memaksakan agama ini agar sesuai dengan selera dan akal pikirannya. Saat bangsa-bangsa Barat mengebiri Islam, ingin mencabut ajaran jihad dari agama ini. Saat para politikus ingin memperalat agama ini untuk kepentingan politiknya. Saat setiap aliran sesat, para pengekor hawa nafsu berkampanye mendakwahkan kesesatannya. Di saat itulah kita harus semakin teliti, semakin jeli mempelajari Islam dan memegangnya kuat-kuat, agar selamat dari tarikan-tarikan mereka. Dan hati-hatilah terhadap pemikiran-pemikiran baru yang dijajakan di atas nama agama dengan harga murah.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam mewasiatkan :

“… Sesungguhnya, barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku nanti, niscaya akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya para khalifah yang lurus dan mendapat hidayah. Peganglah kuat-kuat dan gigitlah dengan geraham kalian. Dan hati-hatilah terhadap perkara yang baru (dalam agama) karena setiap perkara yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam kini terbukti. Kita saksikan perselisihan di antara manusia demikian banyak. Masing-masing merasa yang paling benar. Tiada hari tanpa ada perselisihan. Tiap hari masyarakat dijejali polemik yang tiada henti. Tak ada kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pengajaran memperbaiki diri mereka.

Di saat seperti itu muncul penyeru-penyeru kepada kebinasaan. Lihatlah dedengkot Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla, yang menyamakan memilih kebenaran dalam beragama seperti memilih barang di pasar. Setiap orang bebas memilih barang kesukaannya. Ia beralasan bahwa sekarang tidak ada lagi Rasul yang bisa menjadi tempat bertanya untuk menentukan sebuah kebenaran di antara berbagai pendapat yang ada, sehingga tiap pendapat bisa di anggap benar.

Inilah pentingnya ilmu. Orang yang berilmu dari sumber yang benar, yaitu Al qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, niscaya tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan pemikiran model Ulil. Ia akan tetap melenggang dan menganggap kelompok Ulil sebagai orang-orang bingung yang terus diombang-ambingkan oleh kebingungannya. Cuma kurang ajarnya, dalam kebingungannya itu ia justru mengajak orang lain untuk ikut-ikutan bingung.

Karena itu, berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah adalah keharusan. Memahami keduanya seperti para sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam memahaminya adalah jalan keselamatan. Tidak ada pemahaman yang bisa mengantarkan seseorang selamat di dunia dan akhirat, selain pemahamannya sahabat Rasulullah, para Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in (Shalafush Shalih).

Wallahu A’lam

-------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : http://ranowibowo.cybermq.com/post/kategori/3707/jamaah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar