Kamis, 27 Januari 2011

RELAKAH DIRIMU MENJADI HIASAN SYAITAN DI DUNIA NYATA & DUNIA MAYA?

Adalah hal yang wajar apabila seorang wanita ingin terlihat cantik, asalkan ditujukan untuk suaminya sendiri. Lalu bagaimana apabila ada wanita yang ingin terlihat cantik dengan jilbabnya tapi bukan untuk dilihat suaminya? Pasang photo di FB agar semua mata memandangnya?

Duhai wanita muslimah yang merindukan Jannah, wanita macam apakah yang ingin selalu tampil cantik tapi bukan untuk suaminya?

Siapakah yang telah meracunimu sedemikian rupa?

Apakah dirimu rela menjadi hiasan syaitan?

Sungguh menyedihkan, sungguh memprihatinkan. Ingin menitik rasanya air mata ini menyaksikan polah tingkah wanita muslimah yang “berjilbab”, tetapi tidak memahami hikmah dari disyari’atkannya jilbab bagi mereka.

Dengan “sepotong” kain yang hanya menutupi rambutnya, mereka katakan telah berjilbab. Dengan “selembar” kain yang diikat-ikatkan ke lehernya, mereka katakan telah berjilbab. Yang lebih menyedihkan lagi, mereka mengenakan celana jeans ketat agar dikatakan sebagai wanita muslimah yang dinamis. Bahkan berdandan menor agar terlihat cantik sehingga rela menjadi santapan mata para lelaki hidung belang. Allahul Musta’an.

Duhai wanita muslimah, saudariku fillah. Janganlah kau jadikan dirimu sebagai fitnah bagi laki-laki yang beriman. Janganlah kau jadikan dirimu hiasan syaitan.

Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ. كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ

“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap DUNIA dan WANITA, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil DARI KAUM WANITA.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, syaitan menghiasnya (dalam pandangan pria sehingga terjadilah fitnah).” (Dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3109, dan Al-Irwa’ no. 273. Dishahihkan pula oleh Al-Imam Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)

Sungguh, fitnah wanita termasuk cobaan terbesar dan paling mengerikan bagi kaum Adam. Karena wanita, dua orang laki-laki berkelahi. Lantaran wanita, dua kubu saling bermusuhan dan saling serang. Oleh sebab wanita, darah begitu murah dan mudah diguyurkan. Karena wanita, seseorang dapat terjatuh ke dalam jurang kemaksiatan. Bahkan, karena wanita, si cerdas yang baik dapat berubah menjadi dungu dan liar.

Jarir bin ‘Athiyyah al-Khathafi bersenandung:

إِنَّ العُيُوْنَ الَّتِيْ فِي طَرْفِهَا حَــوَرٌ قَتَلْنَنَا ثُمَّ لَمْ يُحْيِيْنَ قَتْــلاَناَ

يَصْرَعْنَ ذَا اللُّبِّ حَتَّى لاَ حَرَاكَ لَهُ وَهُنَّ أَضْعَفُ خَلْقِ اللّهِ إِنْـسَاناَ

Sesungguhnya indahnya mata-mata hitam wanita jelita

Telah membunuh kita dan tiada lagi menghidupkannya

Mereka pun taklukkan si cerdas hingga tiada berdaya

Sedang mereka manusia paling lemah dari ciptaan-Nya

http://abusalma.wordpress.com/2008/11/05/fitnah-wanita/

Duhai wanita muslimah, saudariku fillah. Simaklah baik-baik firman Allah Ta’ala berikut ini, semoga Allah Ta’ala menjauhkan dirimu dari perbuatan “ingin terlihat cantik” kepada selain suami:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرّ ُجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah dari balik hijab/ tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Sungguh kusampaikan nasihat ini kepadamu, saudariku fillah, agar dirimu tidak temasuk orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِ نِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 8).

Modal mereka hanyalah makar dan tipu daya semata. Materi yang mereka miliki hanya dusta dan kebohongan belaka. Mereka memiliki otak materialis untuk sekedar memuaskan semua pihak, kaum mukminin dan orang-orang kafir, sehingga bisa aman berada di antara golongan mana pun. Allah Ta’ala berfirman:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (Al-Baqarah: 9)

Hati mereka sudah dipenuhi oleh penyakit syubhat dan syahwat, sehingga membinasakannya. Tujuan-tujuan buruk telah menguasai keinginan dan niat mereka sehingga merusaknya. Kerusakan mereka telah menghantarkan kepada kebinasaan sehingga para dokter yang ahli pun tidak mampu mengobatinya. Firman Allah Ta’ala:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 10)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كل بني آدم خطاء. وخير الخطائين التوابون

“Setiap anak Adam itu pasti bersalah (pernah berbuat salah). Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat (kepada Allah).” (Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain keduanya)

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ

“Mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mereka mengikuti dengan sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang menggunakan akal.” (Az Zumar: 18)

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلا عَظِيمًا

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (An Nisaa’: 27)

Semoga bermanfaat….

AKHWAT SEJATI

Akhwat sejati tidak dilihat dari jilbabnya yang
anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam
bersikap.

Akhwat sejati tidak dilihat dari retorikanya ketika
aksi, tetapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam
mengambil keputusan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari banyaknya ia
berorganisasi, tetapi sebesar apa tanggungjawabnya
dalam menjalankan amanah.

Akhwat sejati tidak dilihat dari kehadirannya dalam
syuro’, tetapi dilihat dari kontribusinya dalam
mencari solusi dari suatu permasalahan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tasnya yang selalu
membawa Al – Qur’an, tetapi dilihat dari hafalan dan
pemahamannya akan kandungan Al – Qur’an tersebut.

Akhwat sejati tidak dilihat dari aktivitasnya yang
seabrek, tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi
waktu dengan baik.

Akhwat sejati tidak dilihat dari IP-nya yang cumlaude,
tetapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada umat.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tundukan matanya
ketika interaksi, tetapi bagaimana ia mampu
membentengi hati.

Akhwat sejati tidak dilihat dari partisipasinya dalam
menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari
keikhlasannya dalam bekerja.

Akhwat sejati tidak dilihat dari sholatnya yang lama,
tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar
aktivitas sholatnya.

Akhwat sejati tidak dilihat kasih sayangnya pada orang
tua dan teman – teman, tetapi dilihat dari besarnya
kekuatan cinta pada Ar – Rahman Ar – Rahiim.

Akhwat sejati tidak dilihat dari rutinitas dhuha dan
tahajjudnya, tetapi sebanyak apa tetesan air mata
penyesalan yang jatuh ketika sujud

Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan
paras wajahnya,
tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di
baliknya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang
memesona,
tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk
tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya
kebaikan yang ia berikan
tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah
lantunan suaranya,
tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya
bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya
berbahasa,
tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam
berpakaian
tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani
mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya
digoda orang di jalan
tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang
mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak
dan besarnya ujian yang ia jalani
tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu
dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah …
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam
bergaul,
tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga
kehormatan dirinya dalam bergaul.

TIGA FITNAH DUNIA YANG MENIMPA DAI

Oleh: Iman Santoso, Lc

Fitnah dunia telah sedemikian hebatnya mengganas, menyerang dan menguasai pikiran mayoritas umat manusia. Fitnah itu mengkristal menjadi ideologi yang banyak dianut manusia, yaitu materialisme. Rasulullah saw., pada 14 abad lalu telah memprediksinya dalam sebuah hadits yang terkenal disebut dengan hadits Wahn, ”Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kalian, sebagaimana orang lapar mengepung tempat makanan. Berkata seorang sahabat, “ Apakah karena kita sedikit pada saat itu ? Rasul saw. bersabda,” Bahkan kalian pada saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih, seperti buih lautan. Allah akan mencabut dari hati musuh kalian rasa takut pada kalian. Dan Allah memasukkan ke dalam hati kalian Wahn. Berkata seorang sahabat,” Apakah Wahn itu wahai Rasulullah saw ? Rasul saw, bersabda, “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Dawud)

Dunia dengan segala isinya adalah fitnah yang banyak menipu manusia. Dan Rasulullah saw., telah memberikan peringatan kepada umatnya dalam berbagai kesempatan, beliau bersabda dalam haditsnya: Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita”(HR Muslim) (At-Taghaabun 14-15).

Macam-macam Fitnah Dunia

Secara umum fitnah kehidupan dunia dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk, yaitu: wanita, harta dan kekuasaan.

Fitnah Wanita

Dahsyatnya fitnah wanita telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Bahkan surat ‘Ali Imran 14 menempatkan wanita sebagai urutan pertama yang banyak dicintai oleh manusia dan pada saat yang sama menjadi fitnah yang paling berbahaya untuk manusia. Rasulullah saw. bersabda, ” Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita” (HR Bukhari dan Muslim).

Fitnah wanita dapat menimpa siapa saja dari seluruh level tingkatan manusia baik dari kalangan pemimpin maupun rakyat biasa. Sejarah telah membuktikan kenyataan tersebut. Banyak para pemimpin dunia yang jatuh karena faktor fitnah wanita. Dan fitnah wanita juga dapat menimpa para dai dan pemimpin dai. Bahkan salah satu hadits yang paling terkenal dalam Islam, yaitu hadits niat, sebab keluarnya karena ada salah seorang yang hijrah ke Madinah untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qois. Maka dikenallah dengan sebutan Muhajir Ummu Qois.

Banyak sekali bentuk fitnah wanita, jika wanita itu istri maka banyak para istri dapat memalingkan suaminya dari ibadah, dakwah dan amal shalih yang prioritas lainnya. Jika wanita itu wanita selain istrinya, maka fitnah dapat berbentuk perselingkuhan dan perzinahan. Fitnah inilah yang sangat dahsyat yang menimpa banyak umat Islam.

Ada banyak cerita masa lalu baik yang terjadi di masa Bani Israil maupun di masa Rasululullah saw yang menyangkut wanita yang dijadikan obyek fitnah. Kisah seorang rahib yang membakar jari-jari tangannya untuk mengingatkan diri dari azab neraka ketika berhadapan dengan wanita yang sangat siap pakai, kisah penjual minyak wangi yang mengotori dirinya dengan kotoran dirinya agar wanita yang menggodanya lari, dan cerita nabi Yusuf a.s. yang diabadikan Al-Qur’an. Itu kisah-kisah mereka yang selamat dari fitnah wanita. Sedangkan kisah mereka yang menjadi korban fitnah wanita lebih banyak lagi. Kisah rahib yang mengobati wanita kemudian berzina sampai hamil dan membunuhnya, sampai akhirnya musyrik karena menyembah setan. Kisah raja Arab dari Bani Umayyah yang meninggal dalam pelukan wanita dan banyak lagi kisah-kisah lainnya.

Fitnah Harta

Fitnah dunia termasuk bentuk fitnah yang sangat dahsyat yang dikhawatirkan Rasulullah saw, “Dari Amru bin Auf al-Anshari ra bahwa Rasulullah saw. mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke al-Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Kemudian Abu Ubaidah datang dari bahrain dengan membawa harta dan orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Mereka berkumpul untuk shalat Subuh dengan Nabi saw. tatkala selesai dan hendak pergi mereka mendatangi Rasul saw., dan beliau tersenyum ketika melihat mereka kemudian bersabda,”Saya yakin kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Mereka menjawab, ”Betul wahai Rasulullah”. Rasul saw. bersabda, ”Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada saat dimana dakwah sudah memasuki wilayah negara, maka fitnah harta harus semakin diwaspadai. Karena pintu-pintu perbendaharaan harta sudah sedemikian rupa terbuka lebar. Dan fitnah harta, nampaknya sudah mulai menimpa sebagian aktifitas dakwah. Aromanya sudah sedemikian rupa tercium menyengat. Kegemaran main dan beraktivitas di hotel, berganti-ganti mobil dan membeli mobil mewah, berlomba-lomba membeli rumah yang mewah dan berlebih-lebihan dengan perabot rumah tangga, lebih asyik bertemu dengan teman yang memiliki level sama dan para pejabat lainnya adalah beberapa fenomena fitnah harta.

Yang paling parah dari fitnah harta bagi para dai adalah menjadikan dakwah sebagai dagangan politik. Segala sesuatu mengatasnamakan dakwah. Berbuat untuk dakwah dengan berbuat atas nama dakwah bedanya sangat tipis. Menerima hadiah atas nama dakwah, menerima dana dan sumbangan musyarokah atas nama dakwah. Mendekat kepada penguasa dan menjilat pada mereka atas nama dakwah dan sebagainya.

Dalam konteks ini Rasulullah saw. dan para sahabatnya pernah ditegur keras oleh Allah karena memilih mendapatkan ghonimah dan tawanan perang, padahal itu semua dengan pertimbangan dakwah dan bukan atas nama dakwah. Kejadian ini diabadikan Al-Qur’an surat Al-Anfaal (8): 67-68, “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)…”

Fitnah Kekuasaan

Fitnah kekuasaan biasanya menimpa kalangan elit dan level tertentu dalam tubuh umat. Fitnah inilah yang menjadi pemicu fitnah kubra di masa sahabat, antara Ali r.a. dengan siti Aisyah r.a. dalam perang Jamal, antara Ali r.a. dengan Muawiyah r.a. dalam perang Siffin, antara Ali r.a. dengan kaum Khawarij.

Fitnah kekuasaan ini juga dapat menimpa gerakan dakwah dan memang telah banyak menimpa gerakan dakwah. Para aktifis gerakan dakwah termasuk para pemimpin gerakan dakwah adalah manusia biasa yang tidak ma’shum dan tidak terbebas dari dosa dan fitnah. Yang terbebas dari fitnah dan kesalahan adalah manhaj Islam. Sehingga fitnah kekuasaan dapat menimpa mereka kecuali yang dirahmati Allah. Kecintaan untuk terus memimpin dan berkuasa baik dalam wilayah publik maupun struktur suatu organisasi adalah bagian dari fitnah kekuasaan.

Fitnah kekuasaan yang paling dahsyat menimpa aktifis dakwah adalah perpecahan, saling menjatuhkan, saling memfitnah bahkan saling membunuh. Dan semua itu pernah terjadi dalam sejarah Islam. Semoga kita semua diselamatkan dari semua bentuk fitnah ini.

Untuk mengantisipasi semua bentuk fitnah dunia ini, maka kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan berlindung dari keburukan fitnah dunia. Mengokohkan pribadi kita sehingga menjadi jiwa rabbani bukan jiwa maadi (materialis) dan juga bukan jiwa rahbani (jiwa pendeta yang suka kultus). Disamping itu kita harus mengokohkan pemahaman kita tentang hakekat dunia, risalah manusia dan keyakinan tentang hisab dan hari akhir.

1. Hakekat Harta dan Dunia

· Dunia adalah permainan dan senda gurau. [QS. Al-Ankabuut (29): 64]

· Kesenangan yang menipu. [QS. Ali Imran (3): 185]

· Kesenangan yang terbatas dan sementara. [QS. Ali Imran (3): 196-197]

· Jalan atau jembatan menuju akhirat, Rasulullah saw bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR Bukhari dari Ibnu Umar)

Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin yang harus memakmurkan bumi. Maka mereka harus menguasai dunia atau harta bukan dikuasai oleh harta. Sebagaimana doa yang diungkapkan oleh Abu Bakar r.a., ”Ya Allah jadikanlah dunia di tanganku, bukan masuk ke dalam hatiku.” Seperti itulah seharusnya seorang pemimpin. Memberi teladan tentang pengorbanan total dengan segala harta yang dimiliki, bukan malah mencontohkan kepada pengikutnya mengelus-elus mobil mewah dengan hati penuh harap bisa memiliki.

2. Meyakini hari Hisab dan Pembalasan.

Manusia harus mengetahui dan sadar bahwa kekayaan yang mereka miliki akan dihisab dan dibalas di akhirat kelak. Bahkan semua yang dimiliki dan dinikmati manusia baik kecil maupun besar akan dicatat dan dipertanggungjawabkannya. Oleh karenanya mereka harus berhati-hati dalam mencari harta kekayaan dan dalam membelanjakannya.

3. Sadar dan menyakini bahwa kenikmatan di akhirat jauh lebih nikmat dan abadi.

Rasulullah saw bersabda: ”Allah menjadikan rahmat 100 bagian, 99 bagian Allah tahan dan Allah turunkan ke bumi satu bagian. Satu bagian itulah yang menyebabkan sesama mahluk saling menyayangi sampai kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya khawatir mengenainya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Begitulah, kenikmatan paling nikmat yang Allah berikan di dunia hanyalah satu bagian saja dari rahmat Allah swt sedangkan sisanya Allah tahan dan hanya akan diberikan kepada orang-orang beriman di surga.

Dan kesimpulannya agar kita terbebas dari fitnah dunia, maka kita harus membentuk diri kita menjadi karaktersitik rabbaniyah bukan madiyah dan juga bukan rahbaniyah. Jiwa inilah yang selalu mendapat bimbingan Allah karena senantiasa berintraksi dengan Al-Qur’an baik dengan cara mempelajarinya maupun dengan cara mengajarkannya. Wallahu a’lam

ASYIKNYA BERBICARA DENGAN AKHWAT

Kawan, pernahkan kalian mendengar atau menyaksikan jika sahabat/kawan kita sedang berbicara di telpon dengan lawan jenisnya? Kalau cewek cowok mungkin sudah biasa kita mendengarnya, tapi jika ikhwan dan akhwat (Bukan Muhrimnya) yang berbicara, apalagi komunikasi di telponnya relatif lama (>30 menit), ngobrolnya kemana-mana dan berlenje-lenje, rasanya risih banget. Kalau saja yang dibicarakan adalah yang penting-pentingnya saja, mungkin 5-10 menit pun kelar.

Komunikasi antara ikhwan dan akhwat di telpon tidaklah salah, namun kita pun harus berusaha untuk membatasi dan menjaga hati kita agar dari komunikasi itu tidak menimbulkan sesuatu yang lain(?!). Lagian, kalau nelpon lama-lama kan sayang pulsa dan batrenya kebuang percuma (Ayo hemat energi !), apalagi kalau yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak penting!

Berikut adalah tulisan yang diambil dari sebuah majalah…

Berkomunikasi dengan lawan jenis, boleh-boleh saja, asalkan hanya dalam batas yang memang diperlukan. Jangankan dengan lawan jenis, dalam segala hal saja, Umar bin Al-Khattab pernah mengatakan,

“Ucapan itu hanya ada empat, selain itu cuma sampah belaka. Pertama, membaca Al-Quran. Kedua, membaca hadits-hadits nabi. Ketiga, membaca ucapan-ucapan penuh hikmat dari para ulama. Keempat, berbicara hal yang penting, dalam soal keduniaan”

Tidak layak seorang muslim atau muslimah mengobrol dalam soal-soal keseharian secara berlebihan, karena semua itu ibarat sampah yang seringkali mengandung kotoran dosa dan maksiat. Apalagi, antara seorang muslimah dengan seorang muslim, yang harus saling menjaga kehormatan masing-masing.

Memang, berbicara dengan lawan jenis diperbolehkan. Tapi para ulama, memberikan beberapa rambu, sesuai dengan berbagai nash dalam syariat yang ada.

Menahan Pandangan

Allah berfirman,

”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …” (An-Nur: 30-31)

Menutup Aurat

Allah berfirman,

”… Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya …” (An-Nur: 31)

Artinya, bila harus berbicara dengan pria non mahram, seorang wanita muslimah harus menutup aurat sebatas yang dia yakini sebagai aurat, menurut dasar yang jelas.

Tenang dan Terhormat dalam Gerak-Gerik

Allah berfirman,

“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Di sini, yang perlu dihindari oleh seseorang saat berbicara dengan lawan jenis non mahram adalah tutur kata yang dibuat-buat, yang dibikin supaya menarik, mendayu-dayu, mendesah-desah, atau dengan menggunakan suara yang diperindah, terlalu lemah lembut, dan sejenisnya. Bicaranya harus tegas, lugas dan seperlunya saja.

Serius dan Sopan dalam Berbicara

Allah berfirman,

“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Artinya, seseorang tidak layak banyak bergurau dan bercanda saat berbicara atau membicarakan sesuatu dengan lawan jenisnya. Karena, canda dan tawa itu dapat mengundang ketertarikan pihak lawan jenis. Dan itu bahaya yang perlu dihindari sebisa mungkin.

Hindari Membicarakan Hal-hal yang Tidak Perlu

Segala yang bersifat darurat, haruslah dibatasi sebisa mungkin. Meski berbicara dengan lawan jenis tidak selalu merupakan hal darurat bagi seseorang, namun berbicara secara panjang lebar bisa menyudutkan seorang wanita muslimah dalam kedaruratan. Karena itu akan bisa menggiringnya untuk sedikit banyak menyentuh hal-hal yang dianggap kurang baik, atau bahkan dilarang dalam Islam. Oleh sebab itu, coba batasi ruas-ruas pembicaraan, dan hindari topik-topik yang tidak perlu dibahas.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (Al-Mukminun : 1-3)

Berbicara lewat telpon, boleh-boleh saja. Dalam hal ini, setidaknya dengan tingkat kecanggihan media telpon yang umum hingga saat ini, soal pandangan haram bisa nyaris dihindarkan sama sekali. Tapi soal adab-adab lain dalam berbicara, harus tetap diperhatikan. Wallahu a’lam..

(Ustadz Abu Umar Basyier). Majalah Nikah- Vol. 5, No. 6

Rabu, 26 Januari 2011

MENIKAH ATAU MENUNTUT ILMU?

Assalammu’alaikum.

Afwan ustadz, ana pemuda 24th. Ana ingn segera menikah untuk menjauhi fitnah wanita yg sangat besar ini. Namun ana sering minder/malu, dan takut apakah ada akhwat yg mau degan ana yang sedikit pngetahuan ilmunya dan penghasilan ana yang saat ini pun minim. Dikarenakan ana baru saja di PHK 1 th yang lalu.Apakah yang harus ana dahulukan, mencari ilmu dulu Ataukah menikah?Dapatkah ustadz membantu ana? Ana tidak ingin terjerumus dalam zina, baik dalam bentuk apapun pacaran misalnya.Bagaimana ana bisa hubungi ustadz?

JAWABAN: Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang berpegang teguh dengan ajarannya hingga akhir zaman.

Saudaraku –semoga dirahmati Allah-, keinginan anda untuk segera menikah sangatlah terpuji, apalagi faktor yang mendorongnya adalah karena khawatir terjerumus ke dalam fitnah wanita yang merupakan fitnah terbesar dan membahayakan bagi kaum laki-laki dari umat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita. [HR. Bukhari (no.5096) dan Muslim (no.7122)]

Karena wanita, terjadilah pertikaian, permusuhan dan bahkan pembunuhan antara kaum lelaki. Karena wanita pula, laki-laki sholih yang berilmu tergelincir dalam jurang kemaksiatan dan kekejian.

Maka dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kaum lelaki yang telah mampu agar segera menikah, beliau bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” [HR. Al-Bukhari (no.5066), Muslim (no.1402), dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu]

Maka dari itu, janganlah rasa malu atau minder anda karena sedikitnya ilmu dan penghasilan menghalangi anda untuk mengamalkan sunnah (tuntunan) nabi yang mulia ini. Apalagi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina. Maka lebih ditekankan lagi untuk segera menikah tanpa menunda-nundanya. Barangsiapa menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka Allah pasti menolongnya. Ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ

“Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; pejuang di jalan Allah, seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian dirinya.” [HR. At-Tirmidzi (no.1352), Ibnu Majah (no.1512) dan di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykaah (nomor.3089), Shahiih an-Nasa-i (no.3017), dan Shahiihul Jaami’ (no.3050).]

Namun di saat anda berkeinginan keras untuk segera menikah, tiba-tiba anda juga mengalami kebingungan antara menikah dan menuntut ilmu, manakah yang mesti anda dahulukan?

Maka kami katakan bahwasanya kedua hal tersebut merupakan ibadah yang agung dan memiliki keutamaan-keutamaan yang besar. Jadi, apabila anda merasa memiliki kemampuan untuk menggabungkan antara kedua hal yang bermanfaat tersebut, maka lakukanlah, dan ini yang diharapkan oleh kita semua. Bahkan pernikahan bagi sebagian orang tidak menjadi pengahalang untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i.

Maka apabila anda benar-benar perhatian dan mampu mengatur waktu anda, niscaya anda akan mampu menundukkan perkara ini sehingga menjadi sarana atau faktor yang akan membantu anda dalam menuntut ilmu. Apalagi kalau kita baca kitab sejarah kehidupan generasi salafus sholih, maka kita akan dapatkan bahwa keadaan mereka membuktikan apa yang telah kami sebutkan tadi.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu juga menikah. Dan bersamaan dengan itu, mereka bersemangat menuntut ilmu secara langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian juga para salafus sholih, mereka menikah dan juga mengambil ilmu dari ulama mereka. Dan hal itu tidak menghalangi atau mengendorkan semangat mereka dari menuntut ilmu.

Akan tetapi, bagi sebagian orang lain barangkali menggabungkan antara keduanya sangatlah sulit, maka hendaklah ia mendahulukan salah satu dari keduanya yang dipandang paling mendesak.

Saudariku seislam, bila anda merasa mampu mengendalikan syahwat, maka dahulukanlah menunut ilmu dan bersabarlah. Sebagaimana perkataan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu: “Carilah ilmu sebelum datang masa lemah.” Apalagi dalam membina rumah tangga anda akan menghadapi banyak problem dan tantangan, maka dibutuhkan ilmu yang cukup khususnya ilmu yang berkenaan dengan masalah fikih pernikahan dan keluarga. Seperti bagaimana memilih calon istri, menyelenggarakan walimah yang islami, menggauli istri, menyikapi konflik suami istri dan solusinya, dan lain sebagainya. Hal ini sejalan dengan prinsip agama Islam, yakni berilmu terlebih dahulu baru setelah itu berkata dan beramal di atas ilmu.

Akan tetapi bila kondisinya tidak memungkinkan bagi anda untuk menunda pernikahan, dengan sebab tidak mampu menahan syahwat dan bila ditunda maka ditakutkan atau diduga kuat terjerumus ke dalam perbuatan zina, maka hendaklah anda segera mendahulukan menikah. Pilihlah wanita yang baik agama dan akhlaknya, kemudian selanjutnya terserah anda mau menambah kriteria yang lainnya, seperti kecantikannya, keturunannya, kedudukannya, hartanya, pendidikannya atau kriteria lain yang anda kehendaki. Asalkan kriteria utama, yakni agama dan akhlak yang baik harus ada, sebab kalau tidak, maka yang terjadi adalah kerugian dan kerusakan dalam rumah tangga anda sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”. [HR. Bukhari (no.5090) dan Muslim (no.1466)].

Jadi, dalam menentukan pilihan mana yang mesti didahulukan, menikah dulu atau menuntut ilmu dulu atau menggabungkan keduanya? Anda sendiri yang bisa mengetahui kondisi dan kemampuan diri anda. Tapi bila anda masih bingung dan tetap bingung, mintalah petunjuk dari Allah, lalu bermusyawaralah dengan keluarga anda atau orang-orang yang dapat anda percaya mampu memberikan keputusan. Insya Allah anda tidak meleset dan keliru dalam mengambil keputusan. Wallahu a’lam bish-showab.

Bila ada yang kurang jelas, anda bisa mengirim pertanyaan ke alamat email redaksi majalah nikah, atau ke alamat email berikut: abufawaz79@gmail.com , atau ke halaman Konsultasi Syari’ah pada blog: http://abufawaz.wordpress.com

[Sumber: Majalah Nikah Sakinah, Volume 8, No.12 tanggal 15 Maret-15 April 2010]



Kata2Mutiara

Umar bin Abdul Aziz tertunduk sejenak, lalu dia mengangkat kepalanya dan berkata, ”Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah pada saat kita kaya dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada pada posisi kuat.”
www.seorangayah.wordpress.com

===================================================

“Aku mencintai SAHABAT ku dengan segenap jiwaku, SAHABAT yang baik adalah yang seiring denganku dan menjaga nama baikku ketika aku hidup atau pun selepas mati, ku hulurkan tangan kepada SAHABAT ku untuk berkenalan karena aku akan merasa senang, semakin ramai SAHABAT, aku semakin percaya diri, aku selalu berharap mendapat SAHABAT SEJATI yang tidak luntur dalam suka maupun duka, jika aku dapat aku ingin setia padanya…” (Imam Syafi’i).

==================================================

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” Demikian firman Allah dalam al-Qur’an (al-Ahzab: 35).”

Sesungguhnya nafsu syahwat itu mendorong manusia kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf : 53 )

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab :59)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 24-27)

==================================================

Orang yang sukses adalah orang yang selalu mencari solusi bagi masalahnya, Sedangkan orang yang gagal adalah orang yang selalu mencari alasan, atau menyalahkan orang lain dalam menghadapi masalahnya. (sumber : email sahabat)
www.abdulazis.com

==================================================

MATA adalah penuntun, dan HATI adalah pendorong dan penuntut. MATA memiliki kenikmatan pandangan dan HATImemiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.


==================================================

NAFSU mengukur wanita itu cantik atas dasar rupanya
AKAL menilai wanita itu cantik atas dasar kepintarannya
HATI menobatkan wanita itu cantik atas dasar keteguhan imamnya

==================================================

Mutiara Nasihat Abdullah bin Mas’ud
Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, “Aku tidak ingin menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun saja.” Abdullah berkata, “Bahkan disini ada orang yang apabila meninggal nanti tidak ingin dibangkitakan.” (yakni beliau)

* Suatu saat beliau keluar dan diikuti oleh beberapa orang. Beliau bertanya kepada mereka, “Adakah kalian memiliki kepentingan sehingga mengikutiku?” Mereka menjawab,”Tidak ada, kami hanya ingin berjalan bersama anda.” Abdullah berkata, “Kembalilah kalian, sesungguhnya yang demikian ini menyebabkan hina bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.”

* Abdullah berkata, “Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada diriku sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian taburkan tanah di kepalaku.”

* Abdullah berkata, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan, niscaya Allah akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa menjaga dari kejahatan, niscaya Allah akan menjaganya.”

* Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan.”

* Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.

* Selagi engkau dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.

* Seringkali syahwat mengakibatkan sedih berkepanjangan.

* Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.

* Carilah hatimu di tiga tempat, saat mendengar Al-Qur’an, di tempat majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati (yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi memiliki hati.

* Tiada sesuatupun di muka bumi yang lebih perlu untuk lama dipenjara daripada lisan.

* Ilmu bukanlah karena banyaknya menghafal riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut.

* Setiap pandangan yang haram adalah santapan bagi syetan

* Sudah sepantasnya bagi pembawa Al-Qur’an menghidupkan malamnya di saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka, menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu’ saat manusia sombong. Hendaknya seorang pembawa Al-Qur’an senantiasa menangis, sedih, bijaksana, lemah lembut dan tenang. Dan tidak sepantasnya seorang pembawa Al-Qur’an itu keras hati, lalai, banyak bicara dan kasar.

* Bersama kegembiraan pasti ada kesedihan. Tiada rumah yang mendapatkan kenikmatan, melainkan mendapatkan pula pelajaran. Masing-masing kalian adalah tamu, sedangkan hartanya adalah pinjaman. Setiap tamu akan segera pulang, sedangkan pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya.

Diambil dari: Menjadi Kekasih Allah, Bersama Pakar Rohani Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Penerbit Pustaka At-Tibyan

http://jilbab.or.id/archives/261-mutiara-nasihat-abdullah-bin-masud/

==================================================

Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah S.A.W bersabda : “Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Ahmad dan Thabrani)








==================================================

Renungan Kedua :
Terkadang hidup tidaklah sesuai dengan harapan kita. Tapi…. disitulah letak keindahan dari rencana Allah Yang Maha Sempurna. Apa yang terkadang menurut manusia sangat menyenangkan dan memukau ternyata setelah terlampaui ternyata hanyalah kosong belaka. Sifat dasar manusia yang selalu kurang bisa menerima keindahan rencana Allah Yang Maha Sempurna dalam segala hal akan menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan bagi dirinya. Teman, marilah kita renungkan kembali untuk apa sebenarnya kita diciptakan dan diberi kehidupan di dunia? Semua itu tidak lain adalah untuk beribadah pada Allah Yang Maha Esa, Tuhan Yang Satu yang tidak ada sekutu bagiNya, Tempat Segala Permintaan Tertuju dan Tempat Segala Pertolongan akan datang. So kenapa kita terkadang masih memikirkan meminta pertolongan kepada selain pada Allah?
Coba kita lihat dalam diri kita.
Apakah dulu kita minta diberikan seluruh indera yang saat ini terpasang pada diri kita?
Apakah dulu kita minta diberikan udara untuk hidup?
Apakah dulu kita minta mata, tangan dan kaki ini berjumlah dua?
Ataukah kita minta hidung ini hanya satu saja?
Tentu jawabannya adalah tidak bukan…???
Semua yang Allah berikan saat ini merupakan tanda kasih sayang dariNya bahwa sesungguhnya Dia Maha Tahu Segalanya dan Dia Maha Tahu apa yang dibutuhkan oleh makhlukNya.
Untuk itu mari kita selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita padaNya sehingga setan dari golongan jin dan manusia akan sulit untuk menjebak kita masuk ke dalam lingkaran maksiat yang tidak akan pernah diridhoi olehNya.

==================================================

Meniatkan untuk Menghilangkan Kebodohan dari Dirinya dan Diri Orang Lain

Seorang penuntut ilmu harus meniatkan dalam menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan diri orang lain karena pada asalnya manusia itu adala bodoh. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah mengeluarkan kamu sekalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui apa-apa dan Allah menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kalianagar kalian bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

==================================================

Rasulullah bersabda:
“Seseorang diantara kalian tidak (dikatakan) beriman sehinggga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”
(HR Bukhari & Muslim)

==================================================

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw mengatakan,

“Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu diciptakan Nabi Adam a.s, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga pada hari itu dan kiamat akan terjadi pada hari Jum’at pula.” (HR. Muslim)

==================================================

Renungan diri :
Alloh berfirman dalam firmannya yg suci :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
( QS: Al-Baqarah 216: )

Kesempurnaan hanya Milik Alloh, jangan menuntut kesempurnaan dari manusia.

Tugas kita memperbaiki segala kekurangan itu..semoga Alloh Meridhoinya.

Barakalloh saudaraku…..

==================================================

Penghuni Surga Terakhir

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya aku tahu penghuni neraka yang paling akhir keluar dari neraka dan penghuni al jannah yang paling akhir masuk al jannah. Dia keluar dari neraka dengan merangkak. Allah berfirman kepadanya, ‘Pergilah ke al jannah (surga) dan masuklah ke dalamnya!’ Orang tersebut bergegas pergi ke jannah dan tergambar dalam pikirannya bahwa al jannah itu telah penuh sesak. Maka ia pun kembali dan berkata kepada Allah, ‘Wahai Rabbku, aku dapati al jannah telah penuh!’ Allah pun berfirman kepadanya, ‘Pergilah ke al jannah dan masuklah ke dalamnya! Sesungguhnya engkau berhak atas nikmat sebesar dunia dan sepuluh kali lipatnya.’ Orang tersebut berkata, ‘Wahai Rabbku, apakah Engkau mengejekku dan menertawakanku, karena Engkau Sang Raja Penguasa?”
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Kulihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.” Beliau bersabda: “Itulah derajat penghuni al jannah yang paling rendah.”

(HR. Al Bukhari no. 6571 dan Muslim no. 186)

==================================================

Renungan

Berkata Fath bin Syakhraf: Abdullah al-Antaki berkata padaku: “Wahai Khurasani: Kunci segala perkara itu hanya ada empat, tidak lebih: Pandanganmu, lisanmu, hatimu dan nafsumu. Maka perhatikanlah matamu, jangan sampai memandang pada apa yang tidak halal, dan perhatikan lisanmu, jangan mengucapkan sesuatu yang Allah mengetahui apa yang tidak bersesuaian dengannya dalam hatimu.

Perhatikan juga hatimu, jangan sampai tersimpan rasa dendam dan dengki pada salah seorang dari kaum muslimin. Perhatikan pula nafsumu, jangan sampai menginginkan sedikitpun dari kejahatan. Jika dirimu tidak memiliki empat hal di atas maka tuangkanlah abu di atas kepalamu, karena engkau telah celaka”.

==================================================

MUTIARA KALBU

“4 hal yang menghambat datangnya rizki adalah tidur di waktu pagi, sedikit shalat, malas-malasan dan berkhianat”

(Ibnu Qayyim, Zaadul Ma’ad, 4/378)

4 Hal yang ditanyakan

Bismillahirrohmanirrohiim….
Assalamu’alaikumwarohmatullohiwabarakatuh…….

SAUDARAKU…………..

Ada 4 hal yang akan dipertanyakan nanti di Alam Mahsyar.

1. UMUR kita, untuk apa usia kita dihabiskan
2. SEHAT kita, selama muda digunakan untuk apa
3. HARTA kita, darimana dihasilkan dan kemana disalurkan…..
4. ILMU kita, bagaimana kita memanfaatkan ilmu tersebut……

Rasulullah s.a.w. bersabda;

“Tidak bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia dipertanyakan tentang 4 perkara; tentang usianya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa dipergunakan, tentang hartanya dari mana didapat dan untuk apa dinafkahkan, dan tentang ilmunya untuk apa diamalkan.”
[Riwayat al-Baihaqi dan selainnya dari Mu'adz bin Jabal radhiallahu Anhu]

Mohon do’anya …..Semoga Hidup yg sebentar ini bisa menjadi manfaat…..
semoga berkah Harimu saudaraku…………..

Wassalamu’alaikumwarohmatullohiwabarakatuh…..

==================================================

Sumber : http://mwindriyanto.web.id/2010/09/29/menikah-atau-menuntut-ilmu/













Minggu, 23 Januari 2011

MENYINGKAP TABIR PEREMPUAN ARAB SAUDI

Salah satu hal menarik adalah tentang kehidupan kaum perempuan Arab Saudi yang selama ini seakan begitu diselimuti tabir gelap. Tak salah bila buku The Lost Arabian Women yang diterbitkan Ufuk Publishing House merupakan buku yang menarik untuk dibaca
(Wasis Wibowo, Seputar Indonesia, Juli 2009).

Menyebut nama Arab Saudi, yang terlintas di benak adalah sebuah negeri yang diperintah dengan sistem monarki berlandaskan nilai Islam yang kental. Yang paling menonjol dan terkenal dari negeri gurun pasir ini adalah minyak bumi yang berlimpah dan tentunya keberadaan dua kota suci bagi umat Islam, Mekkah dan Madinah, yang selalu dikunjungi ribuan jemaah haji setiap tahunnya.

Kehidupan masyarakatnya yang jarang terekspos keluar seakan berjalan lurus dan relatif tanpa masalah yang berarti. Namun, belakangan banyak penulis yang menguak kehidupan masyarakat Arab Saudi yang selama ini cenderung tertutup. Bahkan, secara detail mengungkapkan fakta-fakta yang tersembunyi dan mencengangkan dalam masyarakat Arab Saudi.

Salah satu hal menarik adalah tentang kehidupan kaum perempuan Arab Saudi yang selama ini seakan begitu diselimuti tabir gelap. Tak salah bila buku The Lost Arabian Women yang diterbitkan Ufuk Publishing House merupakan buku yang menarik untuk dibaca. Apalagi buku setebal 615 halaman ini merupakan kisah nyata yang dialami penulisnya, Qanta A Ahmed, selama setahun tinggal di Riyadh.

Qanta seorang muslimah asal Pakistan yang berkuliah di Inggris dan Amerika Serikat. Selama tingga ldi Arab Saudi, dia bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam dan rawat darurat di runiah sakit King Fahad National Guard. Tugasnya itu membuatnya banyak berinteraksi dengan masyarakat Arab Saudi, khususnya kaum perempuannya.

Sebagai perempuan dan berstatus lajang, Qanta pun merasakan ketatnya peraturan yang diterapkan bagi kaum hawa. Meskipun dia seorang rnuslim, bukan perkara mudah untuk beradaptasi dengan syariat agama yang diberlakukan secara ketat di Arab Saudi.

Kewajiban untuk menggunakan abayah (jilbab) yang menutup selurah tubuh mungkin bukan hal yang asing bagi Qanta. Namun, cara berinteraksi dengan pasien dan sesama dokter yang didominasi kaum hawa membuatnya harus ekstra sabar. Bagaimana tidak, kebanyakan kaum lelaki di Arab Saudi ternyata tidak mudah untuk sekadar menerima saran, apalagi disanggah pendapatnya oleh seorang perempuan.

Meskipun statusnya seorang dokter spesialis yang berhak memberikan pendapat untuk menangani seorang pasien. Bahkan, melihat kehadiran perempuan di tengah dominasi kaum pria pun sudah menjadi pembicaraan tersendiri. Pun dalam kehidupan sosialnya, Qanta merasa kehilangan jati dirinya sebagai seorang perempuan terpelajar dan mandiri.

Makium di Arab Saudi taklazim seorang perempuan lajang tinggal sendiri di sebuah rumah. Mereka pun diiarang keluar rumah sendiri, tak boleh mengendarai mobil, dan berkumpul bersama lelaki yang bukan keluarga atau suaminya. Sebagai seorang lajang, gerak-geriknya pun seakan selalu diawasi oleh polisi norma (Mutawaeen) yang siap menginterogasi dan meng-hukum bila kedapatan melanggar aturan.

Perbedaan budaya dan peraturan yang ketat itu membuat Qanta banyak mendapatkan pengalaman yang menakjubkan, mencengangkan, bahkan memuakkan. Misalnya, perempuan muda Arab Saudi yang lebih atraktif menunjukkan hasrat cintanya pada lawan jenis melalui dunia maya. Sebab, dalam keseharian mereka tak mungkin menunjukkan secara langsung perasaannya kepada orang yang disukai.

Diungkapkan pula karakter pria Arab yang terlihat necis, modern, dan terdidik, namun untuk urusan cinta dan mencari jodoh pasrah terhadap pilihan orangtua. Dan, bagaimana seorang pria yang telah berkeluarga dan memiliki beberapa anak, bisa begitu mudah berkeinginan menikah kembali. Anehnya, ada segelintir perempuan Arab yang suka menjadi istri kedua atau ketiga hanya agar bisa lebih bebas beraktivitas di luar rumah.

Namun, Qanta pun mengungkapkan rasa tak jubnya ketika menjalankan ibadah haji dan umrah. Termasuk betapa dermawannya orang Arab Saudi untuk menolong orang yang tertimpa kesulitan.

Serta perjuangan kaum perempuan Arab Saudi untuk memperoleh pendidikan dan kesetaraan dalam kehidupan sosial.Karena selama ini perempuan di Arab Saudi selalu dinomorduakan dalam pendidikan dan karier. Sampai ada sebuah anekdot ketika Perang Teluk pecah ada sebuah pesawat tanker Amerika Serikat yang dipiloti seorang perempuan hendak rnendarat, namun ketika meminta izin menara pengawas tak mendapat respons apa pun.

Sang pilot perempuan Amerika ini mengira radio komunikasinya rusak karena tak mendapat jawaban, sampai akhirnya pilot lelaki mencoba berkomunikasi dan akhirnya bisa mendapat respons. "Di sini perempuan diiarang mengendarai mobil, makanya ketika mendengar suara perempuan di pesawat mungkin dikira hantu yang berbicara," ujar rekannya. Untunglah, saat ini perempuan sudah diperbolehkan mengendarai mobil dan internet pada 1998 sudah masuk Arab Saudi.

Buku yang ditulis Qanta ini menyajikan secara apik dan detail gambaran kehidupan sosial masyarakat, khususnya tentang kaum perempuan di Arab Saudi. Mulai dari bagaimana mengungkapkan hasrat cintanya, menggapai cita-cita, meniti karier, dan mendapat kesetaraan status sosial. Temukan secara lengkap kisah-kisah menarik dalam buku ini.

(wasiswibowo)

Sumber :
http://ufukpress.blogspot.com/2009/07/menyingkap-tabir-perempuan-arab-saudi.html